BERBAGI
Sinopsis Film Pusara(n) Semarang
Film pendek Pusara(n) penuh dengan menebak kompleksitas olah rasa khas Semarang

SEMARANG, Warta Nasional – Sinopsis film Pusara(n) sebuah film pendek cukup menampar sisi manusiawi kompeksitas olah rasa masalah hidup mati.

Sinopsis film Pusara(n) mengisahkan sosok Rahman (Mentik Wangii) sebagai lead actor, seorang driver taksi online yang memiliki masalah hidup pelik. Rahman cerai dengan isteri dan depresi ingin bunuh diri.

Beberapa penggalan ada pada sinopsis film Pusara(n), menyentil sang tokoh utama bagaimana memutuskan apakah menjalani hidup sebagai kesialan atau anugerah.

Ada tiga adegan mempengaruhi alur film Pusara(n) produser Indra Prasetiya ini, yakni tiga penumpang memiliki kisah bertautan satu rasa dengan masalah tokoh utama.

Film Pusara(n) juga turut membawa nuansa Semarang dengan landmark khas Kota Lumpia ini. Sebut saja sudut-sudut eksotisnya Kota Lama Semarang, ada juga kawasan Pecinan dan Marina.

Belum lagi sisi tema film Pusara(n) yang membawa persoalan sisi lain yang ada kaitannya dengan Kota Semarang, diselipkan pada adegan tiga penumpang sebagai poin of view penonton.

“Menjadi distraksi top of mind bagi yang melihat film ini, banyak dugaan, banyak olah rasa di film ini,” kata Indra Prasetiya, Selasa 30 Maret 2021, usia penayangan film Pusara(n) perdana di XXI Paragon Semarang.

Pemutaran film Pusara(n) juga tepat sebagai memperingati pada Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret tiap tahunnya.

Berkolaborasi dengan sutradara Leonardo Cardinal Utomo, film Pusara(n) menjadi distorsi bagi penonton untuk menyimpulkan keputusan apa yang terbaik bagi sang tokoh utama.

Sinopsis Film Pusara(n)

Sinopsis film Pusara(n) sebagai film pendek berdurasi sekitar 25 menit cukup epik dalam menyampaikan pesan yang ingin penonton ketahui.

Berikut cuplikan sinopsis film Pusara(n) garapan produksi Sure Pictures bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.

Cuplikan sinopsis film Pusara(n) berawal saat Rahman mendapat order penumpang pasangan pereselingkuhan keluar dari sebuah hotel. Seorang gadis berseragam sekolah tampak mesra bersama pria dewasa.

Dalam perjalanan, pasangan tersebut bertengkar karena soal hadiah apa yang pantas bagi sang gadis oleh pria tersebut.

Seketika Rahman berujar kepada penumpang, jika dalam hubungan bukan masalah soal hadiah, kaya atau harta. Lebih dari itu adalah bagaimana penerimaan masing-masing pasangan.

Dari situ, Rahman teringat pesan putrinya yang meminta kado ulang tahun serta ucapan mantan isterinya yang memilih lebih baik mati jika tidak berguna.

Sinopsis Film Pusara(n)
Capture adegan pemeran Film Pusara(n)/Ambar Adi Winarso-Dok. Instagram@filmpusaran

Berikutnya Rahman mendapat order penumpang kedua, kali ini seorang ibu berstatus janda dan terjadi obrolan.

Jika sang ibu tersebut hidup bergantung sebagai bandar nomor dan rentenir hanya untuk menghidupi anaknya usai suaminya meninggal dunia.

Si ibu bertekad jangan sampai mati hanya untuk bisa menghidupi anaknya. Sebuah pesan menohok ke Rahman, untuk bersyukur masih ada keluarga sempurna dan penghasilan halal.

Seakan mendapat tamparan, Rahman sadar mendapat semangat untuk hidup kembali dari lubang depresi yang kerap menuntun untuk bunuh diri.

Lalu muncul adegan penumpang ketiga, kali ini sosok waria yang bertarung hidup antara jiwa dan realitas duniawi.

Penumpang ketiga membawa suasana jok penumpang Rahman berbeda, jika penumpang pertama ribut pertengkaran pasangan selingkuh, penumpang kedua khusyuk penuh wejangan, penumpang ketiga ini over riuh.

Over riuh karena waria itu adalah selebgram dan terus bercerita siapa dirinya selama perjalanan, sempat terjadi cek-cok keduanya.

Namun, hati Rahman kembali teraduk-aduk sebab ocehan waria tersebut. Meski sebagai waria, namun tidak meninggalkan sisi kodratnya lelaki dengan tidak meninggalkan ibadah shalat lima waktu.

Pemain Pendukung Pusara(n)

Selain sinopsis film Pusara(n), berkut jajaran pemain lainnya ada Sinta Pratiwi, Indra Prasetiya, Thariq Kamaludin, dan Ithuk Arthayani.

Film Pusara(n) juga menggandeng Sani vokalis Good Morning Everyone, dan Bima Sinatrya (Figura Renata) produser musik original soundtrack Pusara(n).

Kru dan pemeran Film Pusara(n)
Pra kru dan pemeran film pendek Pusara(n)/Ambar Adi Winarso-Dok.Instagram@disbudparkotasemarang

Beberapa lagu-lagu musisi kota semarang juga masuk dalan scene film yang menjadi acuan playlist radio dari mobil si Rahman untuk mengakhiri hidupnya.

Antara lain ada, Figura Renata, Malik Ros, RUMI, Raka Ardian Ft Cosmicburp, Pyong Pyong, TESSA, Soegi Bornean, dan Saturn Return.

Film Pusara(n) sendiri nantinya akan ikut festival festival film yang ada, dan akan screening beberapa tempat di Indonesia.

“Mampukah Rahman bisa menemukan jalan yang lebih baik ketimbang bunuh diri? Keputusan dan efek distorsi tersebut yang kita nantikan di film Pusara(n),” kata Ade Bhakti, Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kota Semarang.

Apresiasi Pemkot Semarang

Walikota Semarang Hendrar Prihadi arau Hendi mengapresiasi rilisnya film Pusara(n). Sebagai tonggak bangkitnya sineas Semarang masa pandemi juga mengenalkan pariwisata.

“Filmnya bagus, menampilkan banyak budaya lokal Semarang dan beberapa tempat juga bagus yang bisa dijadikan lokasi syuting film,” kata Hendi, turut menonton perdana.

Hendi, juga memberikan semangat kepada sineas muda Semarang untuk terus berkarya terkait pembuatan film.

“Cara ini salah satu upaya untuk membangkitkan kembali dunia perfilman di Indonesia yang sempat turun karena dampak Pandemi Covid-19,”katanya.

Penayangan perdana Film Pusara(n)
Walikota Semarang Hendrar Prihadi nonton penayangan perdana Film Pusara(n) di XXI Paragon Semarang Selasa 30 Maret 2021/Ambar Adi Winarso-Dok Instagram@disbudparkotasemarang

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, film Pusara(n) momentum untuk membangkitkan dunia perfilman di Indonesia dari Kota Semarang.

“Kolaborasi sineas muda Semarang melibatkan musisi lokal dan industri kreatif lainnya. juga menampilkan budaya lokal Kota Semarang untuk ajang promosi ke luar daerah,” kata Indriyasari. ***

 

Editor: Ambar Adi Winarso