BERBAGI
Menteri BUMN Erick Thohir diutus Jokowi lobi Cina
Menteri BUMN Erick Thohir satu dari tiga menteri Jokowi lobi Cina soal ekspor dan vaksin Covid/Ambar Adi Winarso-Dok. Instagram @erickthohir

WARTA NASIONAL – Tiga menteri Kabinet Indonesia Kerja pemerinrahan Presiden Jokowi terbang ke Cina untuk lobi tingkat menteri.

Tiga menteri Jokowi lobi ke Cina yakni Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri BUMN Erick Thohir.

Tiga menteri tersebut sudah berangkat ke Cina pada tanggal 1 hingga 3 April 2021 kemarin.

Melansir laman indonesia.go.id jika tiga menteri itu diutus untuk lobi pemerntah Cina terutama masalah ekspor dan pasokan vaksin Covid-19.

Untuk menyelesaikan misi, sesampai di negeri tirai bambu itu mereka pun menyebar menemui mitra-mitra mereka.

Tiga Menteri Langsung Lobi

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bertemu dengan mitranya, Menlu Cina Wang Yi.

Menlu Retno meminta perusahaan vaksin Cina yang telah menandatangani komitmen, segera memenuhi jadwal penyediaan vaksin yang telah disepakati bersama.

Menlu Retno juga berharap Pemerintah Cina agar bisa memfasilitasi pemulangan anak buah kapal (ABK) asal Indonesia.

Ia juga berharap, dukungan Cina agar memfasilitasi kembalinya para pelajar asal Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di negeri itu.

Mengingat, kegiatan perkuliahan dan sekolah di daratan Tiongkok telah kembali normal sejak akhir 2020.

Sementara itu, Menteri BUMN Erick Thohir bertemu pejabat Komisi Supervisi dan Administrasi Aset Milik Negara (SASAC).

Selain itu, digelar pula pertemuan dengan praktisi industri baterai listrik dan perusahaan yang membangun kilang peleburan.

Ekspor Sarang Walet

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi melakukan pertemuan bisnis dengan Ketua China Agricultural Wholesale Market Association (CAWA) Ma Zengjun.

CAWA merupakan asosiasi grosir terbesar di Cina anggotanya mitra strategis bagi Indonesia dan rutin mengimpor produk Indonesia, seperti produk sarang burung walet.

Mendag Lutfi juga bertemu dengan Huang Jian, Chairman Xiamen Yan Palace Sinong Food Co Ltd, salah satu perusahaan importir produk sarang burung walet Indonesia terbesar di Cina.

Pada 2020, Xiamen Yan Palace Sinong Food Co Ltd mengimpor lebih dari 50 ton produk sarang burung walet dari Indonesia senilai USD110 juta.

Ke depan, perusahaan tersebut berkomitmen meningkatkan pembelian produk sarang burung walet Indonesia.

Pemerintah Indonesia berkomitmen memberikan dukungan dan fasilitasi penuh terhadap eksportir produk sarang burung walet Indonesia.

Selain itu, Lutfi juga bertemu CEO Guangzhou Tianjin Trading Co Ltd Winnie Hon, salah satu mitra strategis dan importir terbesar untuk produk sarang burung walet Indonesia.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi juga menemui Vice President Da Zhou Xin Yan (Xiamen) Biotechnology Co Ltd Shan Yongjun.

Xiamen Biotechnology merupakan importir sekaligus industri pengolahan produk sarang burung walet.

Dalam tiga tahun terakhir, perusahaan tersebut menggunakan lebih dari 98 persen produk sarang burung walet Indonesia untuk industrinya.

Mendag menyebut ada lima perusahaan Cina yang akan mengimpor sarang burung walet dari Indonesia lebih dari 1,13 miliar dolar AS.

Datangkan Investasi 

Ada juga investasi untuk produk furnitur dari Shandong Wood and Furniture dengan jumlahnya lebih dari 200 juta dolar AS,.

Kemudian juga membahas tentang investasi yang mendatangkan 150 perusahaan Cina di Kalimantan Barat.

“Mereka akan mempekerjakan lebih dari 3.000 pekerja, dan ini total investasinya 1,38 miliar dolar AS,” kata Lutfi.

Ada enam letter of intent (LoI) antara importir Cina dan Indonesia mencakup produk sarang burung walet, buah-buahan, produk kayu dan mebel.

Total nilai kontrak LoI tersebut mencapai USD1,38 miliar atau senilai Rp20 triliun dengan masa kontrak hingga 2023.

Indonesia dan Cina juga sepakat mengoptimalisasi kesepakatan skema ASEAN- Cina FTA dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Kedua negara juga sepakat memperkuat perdagangan multilateral dalam kerangka World Trade Organization (WTO). ***

Editor: Ambar Adi Winarso