BERBAGI
Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal, Fajar Dian Aryani, S.H., M.H. (Dok. Pribadi)

Oleh : Fajar Dian Aryani, S.H., M.H.

Feminism isn’t about making women strong, women are already strong …. It’s about changing the way the world perceives that strength – G.D Anderson

Peringatan  hari perempuan Internasional pada 8 maret kemaren, sekali kali bukan tentang menjadikan wanita kuat, percayalah …. wanita sudah kuat, tapi peringatan ini tentang mengubah cara dunia memandang kekuatan itu.

Sebagai contoh dalam masyarakat Jawa masih banyak terdapat ungkapan proverbial yang menggambarkan marginalisasi posisi perempuan dalam sektor publik, atau sektor kerja di luar rumah. Di sisi lain, di sela-sela pandangan hidup masyarakat Jawa yang cenderung dominan kearah patriarkhi itu terselip fakta kultural yang bertolak belakang dengan konsep dominan tersebut.

Sejumlah peribahasa, idiom, dan istilah dalam masyarakat Jawa ternyata memiliki makna kesejajaran gender, kata bojo ‘istri/suami’, misalnya, arti leksikalnya adalah sebutan bagi orang (baik laki-laki atau perempuan) yang sudah kawin atau menikah. Poerwadarminta (1939:56) menyebutkan bahwa istilah bojo mempunyai arti sisihane wong bebojoan.

Penjelasan tersebut menunjukkan makna kesejajaran atau egaliter karena dapat ditempati oleh suami atau istri. Keduanya tidak berkecenderungan menentukan siapa yang utama dan siapa yang kedua. Bahkan, tidak ditunjukkan siapa yang dituakan dan siapa yang dimudakan.

Fakta empirik lainnya ialah di dalam sastra Jawa klasik tersimpan sejumlah naskah yang menunjukkan sikap masyarakat Nusantara yang mengacu kepada konsep menghargai atau menghormati perempuan, misalnya naskah Tantri Kamandaka. (bdk. laporan penelitian cerita rakyat Jawa karya Widyastuti, 2002).

Naskah tersebut menggambarkan ketegaran seorang wanita yang ditunjukkan dengan keberhasilannya mengalahkan nafsu seorang raja.

Begitu juga dalam sejumlah episode cerita wayang Mahabarata, seperti “alap-alapan”, episode “Sayembara Dhrupadhi” dan “Samba Rabi” terjadi perebutan seorang putri kerajaan.

Dalam adegan tersebut, putri-putri berdarah biru itu memiliki kekuasaan menentukan nasib/masa depan-nya. Mereka menentukan sendiri kriteria calon suaminya dengan mengadakan sayembara.

Cerita tentang Nyai Roro Kidul dan Dewi Uma adalah mitos-mitos yang diyakini benar-benar ada oleh masyarakat Jawa. Kisah-kisah tersebut juga menunjuk-kan keberanian perempuan sebagai pengambil keputusan. Mereka menjadi pe-nanda bahwa pandangan hidup yang dominan dalam masyarakat Jawa adalah patriarkhat, egaliter, dan matriarkhat. Dua hal yang disebutkan terakhir menjadi penyeimbang dari pandangan patriarkhi atau palosentrisme dalam kebudayaan masyarakat Jawa. pandangan Kartini dapat disebut sebagai hipogram dari gerakan feminisme di Indonesia karena dia tidak hanya menyadari akan ketidakseimbangan posisi perempuan dalam masyarakat, tetapi juga menyadari ketimpangan pandangan gender dalam masyarakat yang berakar dari berbagai aspek kehidupan.

Baginya, harus ada solusi untuk pemecahannya. Solusi yang dipilihnya ialah berjuang mengembangkan menyebarkan gagasannya keluar melalui komunikasi, dan berupaya meningkatkan pendidikan anak-anak gadis untuk menyamakan hak perempuan (baca Jawa) dengan laki-laki. Inti dan tujuan feminisme yang mendasar—walaupun ada beberapa versi di dalamnya—ialah menghapus perbedaan tatanan masyarakat yang dirasakan bernuansa gender bias. Selanjutnya, kaum feminis meningkatkan hak dan kedudukan perempuan menjadi sejajar dengan laki-laki di berbagai bidang, seperti di hukum, ekonomi, sosial, dan juga politik (bdk. Djajanegara, 1999:4—5).

Dan dimasa sekarang peran perempuan juga sudah beralih dari yang tadinya tulang rusuk berubah menjadi tulang punggung, mau tidak mau, siap atau tidak siap, perempuan harus menunjukkan kekuatannya yang meliputi kekuatan lahir dan batin, selaras dengan tema International Women’s Day 2021 adalah “Let’s all choose to challenge”. Kita semua bias memilih untuk menyerukan bias dan ketidaksetaraan gender, kita semua dapat memilih untuk mencari dan merayakan pencapaian wanita.”

Penulis : Fajar Dian Aryani, S.H., M.H  Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal